Arti Senyuman Sang Ayah

Cerita ini, gambaran dari kisah nyata yang saya angkat dari perjuangan keras seorang ayah melawan penyakit hampir selama 4 bulan. Sedangkan sang ayah tersebut, bukanlah orang lain dari diri saya sendiri melainkan saudara atau abang kandung dari ibu saya sendiri. Harapan saya menulis cerita ini bahwa karena saya menyayangi paman tersebut dan masih ingin mengenang dia samapai hari ini bahkan selama saya masih hidup. Untuk pihak keluarga, saya mohon maaf bila mungkin saya bersalah mengangkat cerita ini. Tapi untuk menghormati semua, saya akan menulis kisah ini dengan nama yang lain dan alamat yang lain pula.

ARTI SENYUMAN MANIS SANG AYAH

Eleta adalah seorang ayah yang tidak muda lagi melihat dari wajah dan rambutnya yang suda hampir putih merata, iya sepertinya telah berusia kurang lebih 68 tahun. Selain dari wajah dan rambutnya, juga dapat dilihat dari anak-anaknya tidak ada lagi yang masih duduk di bangku sekolah. Hari itu langit nampak biruh awan bergumpalan kecil berwarnah bak salju matahari suda sampai diarah bahu. Eleta dan istrinya sedang berjualan disebuah kantin sekolah di desanya. Kantin itu kelihatan cukup rami karena selain anak-anak sekolah, warga setempat juga ada yang duduk di kantin itu terutama anak-anak muda yang mau minum kopi dan dan sarapan pagi.
Detengah orang-orang yang duduk dikantin itu, seorang ayah terlihat tengah duduk di kursi sudut ruang kantin seperti tengah bercanda dengan cucunya yang masih berumur sekira 2,5 tahun. Kakek mau kue.? Kata cucunya yang terlihat sudah hampir pandai berbicara. Tidak tahu apa yang di jawab sang ayah itu, tapi kelihatan mulutnya seperti mengatakan sesuatu. Tidak alam kemudian seorang anak sekolah datang dan melapor untuk dimaskan sebuah mie. Nenek buatkan saya satu mie ya. Boleh kata istri sang ayah itu. Menunggu mie yang masih di rebus neneknya, anak itu menhampiri sang ayah tersebut. Kakek apa kabar.? Tetapi masih saja sang ayah tersebut tidak terdengar suaranya dari jarak sekira satu dan meter padahal sangat jelas bahwa ia menjawab orang yang menyapanya.
Sembari sang ayah bercanda dengan cucu kecilnya, seseorang datang dan lansung menhampiri sang ayah tersebut. Kali ini orang yang datang itu memanggilnya ayah. Ternyata itu ayahdari cucu kecilnya. Bang kenapa suara paman kurang kedengaran.? Tanya seorang anak muda yang baru datang tadi. Iya suara ayah sekarang seperti serak atau parau mungkin pengaruh batuknya. Apa suda diperiksa ke dokter kan dulu suaa paman tidak begitu. Iya suda juga dan juga uda minum obat yang dibeli dari kota. hampir satu bulan berlalu setelah hari itu aktifitas sang ayah, masih berjalan normal walupun terkadang ia lebih sering batuk ketimbang melakukan apa yang dia kerjakan.
Belum diketahui sang ayah tengah menderita sakit apa tapi sepertinya sang ayah seperti tengah menyembunyikan sesuatu dari anak-anak dan saudara-saudaranya. Namun anak-anak dan saudaranya sepertinya juga tengah menyembunyikan kecurigaan terhadapnya terlihat bagaimana hampir setiap anak-anaknya, melarangnya untuk beraktifitas dan menyuruhnya untuk banyak istrahat, tetapi lagi-lagi sang ayah masih merasa dan meyakinkan semua orang bahwa dia tengan baik-baik saja dan tidak sedang sakit.
Melihat batuk yang derita sang ayah yang kian hari kian tidak kunjung sembuh dan suaranya juga tak kunjung membaik, anak-anaknya seperti suda tidak tahan lagi melihat sang ayah dalam keadaan seperti itu hingga merekapun berinisiatif untuk membawa sang ayah kerumah sakit terdekat untuk diperiksa, hasilnya pihak ruma sakit mengatakan bahwa saang ayah terkena racun. Mendengar hal itu, anak-anaknya seperti menginginkan sang ayah untuk cepat sembuh. Hingga selain ke rumah sakit, mereka juga membawa sang ayah ke tempat pengobatan tradisional yang dikenal di kampung.
Namun usaha itu seperti sia-sia karena sang ayah belum kunjung membaik dari sakitnya. Tapi lagi-lagi sang ayah masih merasa seperti tidak sakit, ia justru masih beraktifitas ditengah kekhawatiran anak-anaknya itu. Padahal semua orang di desa itu tahu bahwa tidakpun sang ayah bekerja lagi, dia tidak akan menderita kelaparan karena anak-anaknya tinggal satu yang terakhir yang masih duduk di bangkuh kuliah yang lainnya bahkan suda ada yang berhasil menjadi pegawai negri. Tapi sang ayah seperti tidak ingin melepas bebannya kepada anaknya yang masih duduk di bangku perguruan tinggi, karena setiap ada pertanyaan untuk apa bekerja lagi ia menjawab bahwa masih ada tanggung jawab yang belum diselesaikan adalah anaknya yang masih kuliah.
Hari bergati minggu dan minggu berganti bulan, sang ayah sudah kelihatan seperti lemah dan mengurangi aktifitasnya. Anak-anaknya masih menginginkan sang ayah untuk sembuh, bersepakat untuk membawa sang ayah kerumah sakit umum kabupaten karena sebelumnya sang ayah hanya diperiksa di puskesmas. Setelah memeriksanya, sang ayah terdeksi seperti menderita penyakit di bagian paru dan tenggorokan namun pihak rumah sakit tidak berani untuk melakukan operasi terhadap sang ayah karena mengaku belum mencukupi sarana untuk operasi. Akhirnya sang ayahpun dirujuk keruma sakit umum propinsi. Kini dua hari sudah sang ayah berada di rumah sakit propinsi, para anaknya antusias menunggu hasil pemeriksaan sang ayah karena ingin tahu penyakit apa yang sebenarnya yang tengah diderita oleh sang ayah yang mereka cintai itu.
Di propinsi, sang ayah hanya ditemani sang istri dan seorang anaknya yang mengikuti mereka dari kampung dan seorang lagi perempuan terahirnya yang memang sudah di propinsi untuk kuliah. Tapi walupun sang ayah hanya ditemani istri dan dua orang anaknya, mereka tidak kesepian karena banyak mahasiswa di propinsi yang sekampung halam dengan mereka bahkan di antaranya masih terkait famili dan mereka juga senantiasa menemani sang ayah di rumah sakit secara bergantian. Hampir satu minggu berlalu, hasil pemeriksaan sang ayah di keluarkan pihak rumah sakit tetapi, pihak rumah sakit seperti menyembunyikan penyakit dari sang ayah dan istrinya sehingga, pihak ruma sakit hanya memanggil dua orang anaknya itu.
Mengetahui pernyataan dokter bahwa sang ayah menderita penyakit tumor dan sudah pada tingkat puncak, isak tangis keduanya seperti tidak terbendung lagi bagaimana tidak piwak rumah sakit yang mengatakn bahwa sang ayah mendrita tumor dan khawatir tidak dapat menanganinya lagi bahkan mengatakan bahwa umur sang ayah tinggal hanya menunggu waktu lagi, anak perempuannya itu kemudian berlari dan menangis yang seakan merasa bahwa besok dia akan ditinggalkan sang ayah yang ia cintai, anak laki-laki itupun menghampiri adiknya berusaha menenangkan dan mengajaknya untuk iklas dengan keadaan itu, tapi bagaimana iya bisa menenangkan adiknya sedang pipinya sendiripun terus dibasahi air matanya yang tak kunjung berhenti.
Tapi apa yang bisa mereka lakukan dalam keadan seperti ini, hanya berusaha untuk kuat bersama-sama menahan tangis dan berpura-pura seperti tidak terjadi apa-apa dihadapan kedua orang tua. Beberapa hari berlalu sang ayah masih dirawat di rawat dirumah sakit anak-anaknya yang tinggal di kampung, hampir tiap hari menghubungi mereka lewat telepon anak yang mengikutinya. Tidak lam kemudian sang ayahpun mendapat izin untuk pulang dari rumah sakit dan suda bisa dirawat jalan saja. Tapi sepertinya pihak ruma sakit bukan memberi sinyal bahwa sang ayah suda membaik dari sakit yang ia derita itu. Melaikan ingin memberi kesempatan untuk sang ayah agar bisa lebih banyak waktu dengan anak-anak dan saudaranya apabila di rumah karena di rumah sakit ada batas kebebasan untuk para penjenguk.
Walaikum salam....alhamdulillah ayah baik-baik saja dengan senyuman manis dibibirnya saat berbicara dengan anak pertamanya lewat telepon, nampak ia berusaha anak dan orang sekelilingnya tidak khawatir. Walupun sang ayah berbicara dengan anaknya lewat telepon, tapi sepertinya anaknya tidak mendengar jelas tentang apa yang ia katakan karena suaranya sudah semakin serak dan parau layaknya orang yang tengah berbisik bila ia bicara.
Keesokan harinya sepertinya Alla punya rasahasia terhadap sang ayah, namapak sang ayah seperti sudah sembuh dari dari penyakit. Batuknya, sudah berkurang dan suaranyapun sudah mudah didengar bila ia bicara. Melihat kondissi itu, semua orang yang ada disekelilingnya, seperti mendapat sebuah harapan baru yaitu kesembuhan sang ayah. Hingga merekapun berencana untuk segera pulang ke kampung.
Tapi, harapan itu seolah hanya menjadi sebuah penyemangat belaka. Karena dua hari kemudian saat setelah shalat subuh, sang ayah mengeluh merasa kedinginan kelihatan tubuhnya menggigil, bibirnya bergetar, walau sang istri suda mencoba menhangatkannya dengan menaru lebih dua helai selimut di seluruh tubuhnya, namun tetepa saja ia marasa kedinginan. 


 Orang disekeliling sang ayah semua diam saat ia bicara ditelepon itu karena khawatir suara sang ayah yang seperti bisikkan yang hanya didengar apabila mulutnya rapat dengan telinga tidak terdengar oleh anaknya. 

Komentar